Skip to content
AESI

AESI Dorong Dekarbonisasi Industri Mineral Kritis melalui Pemanfaatan Energi Surya

Oleh: admin1

AESI Dorong Dekarbonisasi Industri Mineral Kritis melalui Pemanfaatan Energi Surya

Jakarta, 5 Juni 2026 – Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) turut berpartisipasi dalam Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICM) 2026 yang diselenggarakan di Pullman Jakarta Central Park. Pada sesi Solar and Energy Storage Forum, AESI diwakili oleh Wakil Ketua Umum Bidang Riset dan Teknologi, I Made Aditya Suryawidya, yang menyampaikan presentasi bertajuk “Decarbonize to Compete: The Business Case for Solar Powered Critical Minerals in Indonesia.”

Dalam paparannya, beliau menyoroti bahwa industri mineral kritis dan energi bersih kini tidak dapat dipisahkan. Seiring meningkatnya tuntutan pasar global terhadap produk rendah emisi, perusahaan pertambangan dan pengolahan mineral tidak lagi dinilai hanya berdasarkan biaya dan volume produksi, tetapi juga berdasarkan jejak karbon, kepatuhan ESG, transparansi rantai pasok, serta komitmen menuju net-zero emissions. Salah satu pendorong utama perubahan tersebut adalah penerapan regulasi internasional seperti EU Battery Regulation yang mewajibkan deklarasi jejak karbon dan transparansi rantai pasok untuk berbagai mineral penting.

Indonesia memiliki peluang strategis untuk menjadi pemimpin global dalam produksi mineral kritis rendah karbon. Sebagai produsen nikel terbesar di dunia dengan pertumbuhan industri hilirisasi yang sangat pesat, Indonesia saat ini memiliki sekitar 160 proyek smelter yang beroperasi, dalam konstruksi, maupun tahap studi kelayakan, dengan kebutuhan listrik masa depan mencapai 35,9 GW. Kondisi ini membuka peluang besar bagi pemanfaatan energi surya sebagai solusi dekarbonisasi sektor industri. Beliau menegaskan bahwa sektor mineral kritis dapat menjadi salah satu motor penggerak pencapaian target 100 GW energi surya Indonesia, melalui pemanfaatan energi bersih untuk mendukung kebutuhan listrik industri yang terus berkembang.

Menurut AESI, penggunaan energi surya tidak hanya mendukung target pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Penurunan biaya teknologi surya dan penyimpanan energi dalam beberapa tahun terakhir menjadikan kombinasi Solar PV dan Battery Energy Storage System (BESS) semakin kompetitif dibandingkan sumber energi konvensional. Selain membantu menurunkan intensitas karbon produk, pemanfaatan energi surya juga dapat meningkatkan ketahanan energi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta memperkuat akses pasar ekspor yang semakin menuntut standar keberlanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, AESI juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, lembaga keuangan, dan penyedia teknologi untuk mengatasi berbagai tantangan implementasi, seperti kebutuhan investasi awal yang tinggi, kompleksitas regulasi, serta kebutuhan infrastruktur pendukung.

Pengembangan skema pembiayaan hijau, Corporate Power Purchase Agreements (Corporate PPA), serta kebijakan yang mendukung integrasi energi terbarukan dinilai menjadi faktor penting untuk mempercepat transformasi energi di sektor pertambangan dan pengolahan mineral. Melalui partisipasi dalam ICM 2026, AESI kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong percepatan transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia. Dekarbonisasi sektor mineral kritis tidak hanya menjadi langkah penting untuk memenuhi tuntutan pasar global, tetapi juga menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing industri, menarik investasi hijau, serta memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam rantai pasok mineral kritis dunia.